Tentang SNI 4141:2015
SNI 4141:2015 Metode Uji Gumpalan Lempung dan Butiran Mudah Pecah dalam Agregat merupakan revisi dari SNI 03-4141-1996 dan merupakan adopsi identik dari standar internasional ASTM C 142-04. SNI 4141:2015 mengandung perubahan utama dari revisi sebelumnya yaitu pengurangan massa minimum contoh uji agregat halus dari 100 gram menjadi 25 gram.
Ruang Lingkup dan Tujuan
Metode uji yang terdapat dalam SNI 4141:2015 digunakan untuk menentukan persentase kandungan gumpalan lempung dan butiran yang mudah pecah di dalam agregat. Tujuan utama SNI 4141:2015 adalah untuk menilai kesesuaian agregat dengan persyaratan dalam Spesifikasi ASTM C 33 untuk agregat beton. Standar SNI 4141:2015 menjelaskan tentang penggunaan peralatan, penyiapan bahan, prosedur pengujian, dan perhitungan. Perlu dicatat bahwa standar SNI 4141:2015 tidak mencakup ketentuan keselamatan kerja, yang menjadi tanggung jawab pengguna.
Peralatan
Peralatan utama yang diperlukan meliputi timbangan dengan ketelitian 0,1% dari massa contoh uji; wadah tahan karat untuk merendam contoh; set ayakan dengan ukuran tertentu (0,85 mm, 1,18 mm, 2,36 mm, 4,75 mm, 9,50 mm, 19,00 mm, dan 37,5 mm) sesuai Spesifikasi ASTM E 11; serta oven dengan sirkulasi udara yang dapat mempertahankan suhu 110°C ± 5°C.
Persiapan Contoh Uji
Agregat yang akan diuji harus merupakan sisa material setelah pengujian kandungan bahan halus (lebih kecil dari 75 µm/No. 200) sesuai ASTM C 117. Agregat harus dikeringkan hingga berat konstan pada suhu 110°C ± 5°C. Contoh uji dipisahkan berdasarkan ukuran:
- Agregat Halus: Butiran yang lebih kasar dari 1,18 mm (No. 16) dengan massa minimum 25 gram.
- Agregat Kasar: Dipisahkan ke dalam fraksi-fraksi ukuran menggunakan ayakan 4,75 mm, 9,50 mm, 19,00 mm, dan 37,50 mm. Setiap fraksi harus memenuhi massa minimum tertentu, mulai dari 1.000 gram untuk ukuran terkecil hingga 5.000 gram untuk ukuran di atas 37,50 mm.
Jika contoh merupakan campuran halus dan kasar, pisahkan terlebih dahulu dengan ayakan 4,75 mm (No. 4).
Prosedur Pengujian
Tentukan massa contoh uji, lalu sebar dalam lapisan tipis di dasar wadah dan rendam dalam air suling selama 24 jam ± 4 jam. Butiran kemudian dipilin dan ditekan menggunakan ibu jari dan telunjuk untuk memecahkan partikel yang lunak. Tidak diperbolehkan menggunakan kuku, menekan butiran pada permukaan keras, atau menggosok butiran satu sama lain. Butiran yang dapat dipecahkan dengan jari menjadi bagian halus dan dapat dipisahkan melalui penyaringan basah diklasifikasikan sebagai gumpalan lempung atau butiran mudah pecah. Setelah semua material tersebut dipecahkan, lanjutkan dengan pengayakan basah. Alirkan air pada contoh uji sambil menggoyangkan ayakan secara manual hingga butiran yang lebih halus dari ukuran ayakan yang ditentukan lolos seluruhnya. Selanjutnya, pindahkan dengan hati-hati butiran yang tertahan pada ayakan. Keringkan butiran tersebut hingga mencapai massa konstan pada temperatur 110°C ± 5°C, lalu biarkan sampai dingin. Terakhir, tentukan massa butiran yang tertahan tersebut dengan ketelitian 0,1% dari massa contoh uji awal.
Ketelitian dan Penyimpangan
Perkiraan ketelitian metode ini bersifat sementara dan didasarkan pada studi antar-laboratorium. Untuk satu contoh agregat halus yang diuji, persentase rata-rata gumpalan lempung dan butiran mudah pecah adalah 1,2% dengan deviasi standar 0,6%. Berdasarkan ini, perbedaan yang dapat diterima antara dua hasil uji dari contoh yang sama di laboratorium yang berbeda adalah 1,7%. Tidak ada pernyataan penyimpangan (bias) karena belum ada bahan acuan yang diterima.
Dokumen Sumber
Untuk detail lebih lanjut dan rincian teknis yang komprehensif, Anda dapat mengakses dokumen sumber SNI 4141:2015 melalui tautan ini.
Catatan: Mohon maaf, fitur akses dokumen untuk sementara tidak dapat digunakan karena sedang dalam tahap pengembangan sistem.