Tentang SNI 1971:2011
SNI 1971:2011 Cara Uji Kadar Air Total Agregat dengan Pengeringan merupakan revisi dari SNI 03-1971-1990 dan merupakan adopsi modifikasi dari ASTM C566-97. SNI 1971:2011 digunakan untuk menentukan persentase air yang dapat menguap dari dalam contoh agregat dengan cara pengeringan. Hasil pengujian kadar air dapat digunakan dalam pekerjaan perencanaan campuran dan pengendalian mutu terhadap beton semen dan beton aspal campuran dingin aspal emulsi.
Ruang Lingkup
SNI 1971:2011 cara uji kadar air total agregat dengan pengeringan mencakup penentuan persentase air yang dapat menguap dari dalam contoh agregat dengan cara pengeringan. Cara uji SNI 1971:2011 tidak mencakup masalah keselamatan yang berhubungan dengan penggunaannya. Pengaturan keselamatan dan kesehatan kerja serta penerapannya menjadi tanggung jawab pengguna cara uji. Apabila agregat dapat berubah secara kimiawi akibat pemanasan (misalnya kapur), atau diperlukan pengukuran yang lebih teliti maka pengujian harus menggunakan oven berventilasi dilengkapi pengontrol temperatur.
Istilah Penting
- Alkohol anhidrous: Senyawa kimia hidrokarbon yang disebut juga etil alkohol atau etanol (C₂H₅OH) dengan kandungan air sangat rendah sehingga dapat berfungsi sebagai bahan bakar.
- Agregat ringan: Agregat yang memiliki berat jenis lebih kecil dari 2.
- Kadar air agregat: Perbandingan antara massa air yang dikandung agregat dengan massa agregat dalam keadaan kering oven, dinyatakan dalam satuan persen.
- Spiritus: Etil alkohol yang didenaturasi (ditambah bahan beracun agar tidak dikonsumsi) sehingga murah karena tidak dikenai cukai dan umumnya dapat digunakan sebagai bahan bakar.
- Ukuran butir nominal maksimum: Ditunjukkan dengan ukuran saringan maksimum yang dapat menahan sedikitnya 10% agregat.
Kegunaan Hasil Pengujian
Cara uji SNI 1971:2011 cukup akurat untuk keperluan pada umumnya, utamanya untuk pengaturan massa komponen agregat pada pembuatan beton semen ataupun beton aspal campuran dingin aspal emulsi. Pada umumnya pengaturan massa agregat dengan mengukur kandungan air dalam contoh agregat tersebut dengan cara uji ini lebih tepat dibanding menentukan komposisi beton sesuai kadar air stok agregat.
Tabel 1 - Massa Minimum Benda Uji
| Ukuran nominal maksimum agregat | Massa minimum benda uji agregat normal (kg) | |
|---|---|---|
| mm | inci | |
| 4,75 | 0,187 (No. 4) | 0,5 |
| 9,5 | 3/8 | 1,5 |
| 12,5 | ½ | 2 |
| 19,0 | ¾ | 3 |
| 25,0 | 1 | 4 |
| 37,5 | 1 ½ | 6 |
| 50 | 2 | 8 |
| 63 | 2 ½ | 10 |
| 75 | 3 | 13 |
| 90 | 3 ½ | 16 |
| 100 | 4 | 25 |
| 150 | 6 | 65 |
Catatan: Untuk menentukan massa benda uji minimum agregat ringan, kalikan nilai pada Tabel 1 dengan berat isi lepas dalam satuan kg/m³ dan bagi 1600. (Dirujuk ke ASTM)
Ringkasan Cara Uji
Contoh agregat ditimbang, dikeringkan dengan cara di oven dan ditimbang kembali, kemudian kandungan air agregat dihitung sebagai persen penurunan massa terhadap massa agregat kering oven.
Peralatan
- Timbangan: Memiliki kapasitas yang memadai dan dapat menimbang dengan ketelitian 0,1% dari berat contoh.
- Pemanas: Oven yang memiliki ventilasi dan dapat mempertahankan temperatur contoh 110°C ± 5°C. Apabila pengaturan temperatur tidak disyaratkan, boleh digunakan pemanas lain yang memadai seperti pelat pemanas listrik atau gas, lampu pemanas listrik, atau oven microwave berventilasi.
- Wadah benda uji: Wadah harus tahan panas dengan volume yang memadai sehingga dapat menampung benda uji agar tidak sampai jatuh/tumpah. Wadah juga harus memiliki bentuk sedemikian rupa sehingga kedalaman benda uji tidak lebih seperlima dari lebar wadah. Jika menggunakan oven microwave, wadah harus terbuat dari bahan bukan logam.
- Pengaduk: Pengaduk terbuat dari logam atau spatula dengan ukuran yang memadai sesuai ukuran benda uji.
Benda Uji dan Persiapan
Benda uji adalah agregat dengan massa tertentu sesuai Tabel 1. Pastikan benda uji agregat berada dalam kemasan yang baik (kedap air) sehingga tidak akan mengalami perubahan kadar air mulai dari pengiriman hingga dilakukan pengujian.
Prosedur Pengujian
- Timbang benda uji sampai 0,1% massa terdekat (W₁). Massa benda uji adalah massa wadah dan benda uji dikurangi massa wadah.
- Keringkan benda uji langsung dalam wadah dengan menggunakan pemanas yang diinginkan dan jaga jangan sampai ada partikel yang hilang. Pemanasan yang terlalu cepat dapat menyebabkan partikel pecah dan keluar dari wadah.
- Apabila pemanasan dapat merubah sifat benda uji agregat atau apabila disyaratkan pengujian yang lebih teliti, gunakan oven yang memiliki pengatur temperatur.
- Apabila pemanas tidak menggunakan oven yang memiliki pengatur temperatur, aduk benda uji selama proses pengeringan untuk mempercepat proses dan menghindari pemanasan setempat.
- Apabila menggunakan pelat pemanas, untuk mempercepat pengeringan dapat dilakukan dengan prosedur:
- Tambahkan alkohol anhidrous atau spiritus secukupnya sehingga merendam benda uji.
- Aduk dan biarkan bahan yang tersuspensi mengendap.
- Tuangkan alkohol atau spiritus dengan cara mengendap-tuangkan (dekantas) sebanyak mungkin tanpa ada benda uji yang terbuang.
- Bakar alkohol atau spiritus tersisa pada benda uji dan biarkan sampai padam selama pengeringan dengan pelat pemanas. (Lakukan dengan hati-hati agar bahaya dan kerusakan akibat pembakaran dapat dihindari).
- Setelah dingin (sehingga tidak akan merusak atau mempengaruhi timbangan), timbang benda uji kering sampai 0,1% massa terdekat (W₂). Benda uji dianggap kering apabila pemanasan berikutnya hanya menyebabkan penurunan massa kurang dari 0,1%.
Perhitungan
Kadar air total dihitung dengan rumus:
Keterangan:
- P = Kadar air benda uji (%)
- W₁ = Massa benda uji (gram)
- W₂ = Massa benda uji kering oven (gram)
Kadar air permukaan sama dengan perbedaan antara kadar air total dengan kadar air penyerapan dengan semua nilai terhadap massa agregat kering. Penyerapan dapat ditentukan berdasarkan cara uji SNI 03-1969-1990 atau SNI 03-1970-1990.
Pelaporan
Laporkan kadar air agregat dalam satuan persen sampai dua angka di belakang koma.
Ketelitian
- Dua hasil pengujian yang dilakukan oleh teknisi dan laboratorium yang sama terhadap contoh uji yang sama, satu sama lain tidak boleh berbeda lebih dari 0,79%.
- Dua hasil pengujian yang dilakukan oleh dua laboratorium yang berbeda terhadap contoh uji yang sama, satu sama lain tidak boleh berbeda lebih dari 0,79%.
Dokumen Sumber
Untuk detail lebih lanjut, Anda dapat mengakses dokumen sumber SNI 1971:2011 melalui tautan di bawah ini.
Akses dokumen SNI 1971:2011 >>>
Dapatkan dokumen resmi di Pesta BSN.